Kontribusi Hulu Migas: Medco Pastikan Negara Nikmati Porsi Lebih Besar dari Bagi Hasil Natuna

Poto Yanin Kholison, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut

KabarAnambas.com Batam – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi besar bagi penerimaan negara. Meski penuh tantangan, sektor ini tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.

Hal itu ditegaskan Kemal Abduhrahman Massi, Manajer Field Relation KKKS Medco E&P Natuna, dalam sebuah diskusi bersama awak media pada Jumat (19/9/2025) siang. Menurutnya, meski harga minyak dunia sangat fluktuatif, mekanisme bagi hasil yang berlaku di Indonesia memastikan negara tetap mendapat manfaat signifikan.

“Komposisinya sekitar 85-15, di mana negara mendapat bagian yang lebih besar. Jadi, setiap produksi migas selalu memberi kontribusi nyata bagi penerimaan negara,” jelas Kemal.

Kemal juga mengungkapkan, eksplorasi dan produksi migas bukanlah pekerjaan sederhana. Medco misalnya, pernah melakukan pengeboran hingga kedalaman 2.300 meter di Natuna, yang membutuhkan teknologi tinggi dan tenaga kerja dengan kompetensi khusus.

“Pekerjaan seperti ini memang tidak selalu terlihat oleh masyarakat, tetapi hasilnya nyata. Yang terpenting adalah kontribusinya untuk negara dan masyarakat,” ujarnya.

Selain melalui produksi, industri migas juga memberikan multi-layer effect berupa pajak, retribusi, peluang kerja, hingga dampak ekonomi di wilayah operasi. “Industri ini sering disalahpahami seolah hanya soal keuntungan, padahal kontribusinya jauh lebih luas,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, sejak mengambil alih Blok South Natuna B pada 2016, Medco berhasil meningkatkan produksi minyak dari sekitar 16.600 barel per hari (bph) menjadi 23.000 bph. Perusahaan menargetkan angka itu naik menjadi 25.000 bph pada 2025. mengambil alih Blok South Natuna B pada 2016, Medco berhasil meningkatkan produksi minyak dari sekitar 16.600 barel per hari (bph) menjadi 23.000 bph. Perusahaan menargetkan angka itu naik menjadi 25.000 bph pada 2025.

Selain minyak, gas bumi juga menjadi fokus utama. Medco baru saja menyelesaikan proyek Terubuk WHP-M, yang mulai berproduksi pada 25 Juli 2025. Proyek ini menambah kapasitas produksi sebesar 6.600 bph minyak dan 60 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) gas.

Proyek ini istimewa karena pengerjaan fabrikasi topside diselesaikan hanya dalam waktu enam bulan, jauh lebih cepat dibanding rata-rata proyek offshore yang biasanya memakan waktu 10–12 bulan. Seluruh pekerja yang terlibat pun merupakan tenaga kerja Indonesia, sehingga menunjukkan kemandirian industri dalam negeri.

Tak hanya itu, Medco juga menggarap proyek lapangan Forel dan Terubuk dengan nilai investasi mendekati Rp10 triliun. Proyek ini ditargetkan menghasilkan tambahan produksi hingga 20.000 bph minyak dan 60 MMscfd gas.

“Gas itu tidak bisa kita produksi lebih dari kapasitasnya. Jadi, pengelolaannya harus bijak dan efisien. Inilah tantangan teknis yang harus terus kami hadapi,” kata Kemal.

Kemal juga menegaskan, keberhasilan Medco di Natuna bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, melainkan juga mendukung target pemerintah dalam mencapai lifting minyak nasional sekitar 605.000 bph.

“Diskusi-diskusi seperti ini penting agar publik memahami tantangan dan manfaat industri migas. Intinya, dengan pekerjaan ini kita bisa melakukan hal-hal yang lebih baik, baik untuk perusahaan maupun untuk negara,” tutupnya. (iman)

109

Nilai Kualitas Konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like